Tuesday, May 24, 2016

Menghampiri Ramadhan

Assalamualaikum
Salam penuh keberkatan untuk semua

Mohonlah pada Allah supaya kita faham kehidupan ini dari sudut sebenar yang Allah mahukan.. Mungkin dah banyak kali kita pernah dengar & baca ayat2 Quran dan hadith-hadith ini, tetapi mungkin bacaan kali ini menjadi penyebab kita mendapat hidayah untuk mengerti jalan yang lurus... wallahualam.

"Ketahuilah, bahawa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur;
Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras (berat), dan keampunan dari Allah serta keredhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadid : 20)

Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: “Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmatKu kepada kamu, dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabKu amatlah keras”. (Ibrahim : 7)

“Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, kepada mereka dikatakan, ‘Kalian telah menghabiskan kesenangan hidup (rezeki yang baik-baik) kalian dalam kehidupan duniawi saja dan kalian telah bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini kalian dibalas dengan adzab yang menghinakan karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa haq dan karena kalian berbuat kefasikan’.” (Al-Ahqaf: 20)

Sebuah Hadis Qudsi, Allah Berpesan kepada kita melalui lidah NabiNya
1. Hiduplah sesukamu, tetapi sedar lah bahawa pada suatu ketika kamu akan dimatikan.
2. Cintailah sesiapapun / apa-apapun yang kamu cintai, tetapi sedar lah bahawa pada suatu ketika nanti kamu akan berpisah denganya jua.
3. Berbuatlah sesuka hatimu, tetapi sedar lah bahawa apa yang kamu lakukan itu akan mendapat balasan kelak.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Rasulullah SAW melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:
“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim)

“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi)

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari)

Suatu ketika Ibnu Mas’ud r.a melihat Rasulullah SAW tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Baginda menjawab:
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Umar ibnul Khaththab r.a pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, –pent.) dan Kaisar (raja Romawi –pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah.” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari)

Kemudian, Umar ibnul Khaththab r.a berkata kepada Nabinya:
“Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian berkata, “Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki yang baik- baik) mereka di dalam kehidupan dunia ?” (HR. Al-Bukhari)

Al-Mustaurid bin Syaddad r.a berkata, “Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim)

Wallahu'alam.






Sunday, May 15, 2016

Jom Baca Hadith: Hadith 3

Assalamualaikum

Salam penuh keberkatan untuk semua...

Sedikit perkongsian untuk para pembaca budiman..moga-moga kita beroleh manfaat daripadanya.

Dari Ali bin Abi Thalib r.a :
Bahawasanya kami sedang duduk bersama Rasulullah saw di dalam masjid. Tiba-tiba datang Mus’ab bin Umair r.a dan tiada di atas badannya kecuali hanya sehelai selendang yang bertampung dengan kulit.

Tatkala Rasulullah saw melihat kepadanya, Baginda saw menangis dan menitiskan air mata kerana mengenangkan kemewahan Mus’ab ketika berada di Mekah dahulu; dan kerana memandang nasib Mus’ab sekarang (dalam kemiskinan sebagai seorang Muhajirin dan meninggalkan segala kemewahan).

Kemudian Nabi saw bersabda, “Bagaimanakah keadaan kamu pada suatu saat nanti, pergi di waktu pagi dengan satu pakaian dan pergi di waktu petang dengan pakaian yang lain pula (dalam sehari bertukar-tukar pakaian).

Dan bila diangkatkan satu hidangan, diletakkan pula satu hidangan yang lain (mewah dengan makanan). Dan kamu menutupi (menghias) rumah kamu seperti mana kamu memasang kelambu Ka’bah?”

Maka jawab sahabat, ‘Wahai Rasulullah, tentunya di waktu itu kami lebih baik dari hari ini. Kami akan memberikan penumpuan kepada masalah ibadat sahaja dan tidak usah (perlu) mencari rezeki.’
Lalu Nabi saw bersabda, “Tidak! Keadaan kamu di hari ini adalah lebih daripada keadaan kamu di hari itu.” (Riwayat Tirmidzi)

Jom Baca Hadith : Hadith 2

Dari Zainab binti Jahsy r.a (isteri Rasulullah saw), katanya :

Rasulullah saw masuk ke dalam rumahnya dalam keadaan cemas sambil bersabda, “La ilaa ha illallah, celaka (binasa) bagi bangsa Arab dari kejahatan (bencana) yang sudah hampir menimpa mereka.
Pada hari ini telah terbuka dinding Ya’juj dan Ma’juj,” dan Baginda saw menemukan ujung ibu jari dan ujung jari yang sebelahnya (jari telunjuk) yang dengan itu mengisyaratkan seperti bulatan.

Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah kami akan binasa sedangkan di kalangan kami masih ada orang-orang soleh?’ Lalu Nabi saw bersabda, “Ya, jikalau kejahatan sudah terlalu banyak.” [Riwayat Bukhari dan Muslim]

Wednesday, May 11, 2016

Jom Baca Hadith : Hadith 1

Jom Baca Hadith : Hadith 1

Dari Irbadh bin Sariyah r.a, katanya :


Telah menasihati kami oleh Rasulullah saw akan satu nasihat yang menggentarkan hati kami dan menitiskan air mata kami ketika mendengarnya, lalu kami berkata, ‘Ya Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat yang terakhir sekali, maka berilah pesanan kepada kami.

Lalu Baginda saw bersabda, “Aku berwasiat akan kamu supaya sentiasa bertakwa kepada Allah dan dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun yang memimpin kamu itu hanya seorang hamba.

Sesungguhnya sesiapa yang panjang umurnya daripada kamu pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan Sunnah ku dan sunnah para Khulafa Ar-Rasyidin Al-Mahdiyin (Abu Bakar, Umar, Uthman dan Ali r.a) dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah perkara-perkara yang baharu (bid’ah) yang diada-adakan, kerana sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu sesat.” (Riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi)